rekomendasi aqiqah jakarta barat sesuai sunnah

Dahulukan Aqiqah ataupun Qurban? Begini Penjelasannya

Persoalan di atas jadi perkara yang kerap timbul, sebab kedua ibadah mempunyai kesamaan dalam praktek serta objeknya, normal bila masih terdapat yang‘ bimbang’ dalam menyikapi perkara tersebut. Dalam menyikapinya, terdapat sebagian perihal yang mesti dicermati terlebih dulu:

Objek hukum ataupun penanggung jawab atas kedua ibadah tersebut berbeda. Dalam qurban, Islam sudah menetapkan kalau penanggung jawabnya merupakan orang( berusia) yang mempunyai kelebihan harta, sehingga ibadah diperuntukkan buat dirinya sendiri ataupun orang yang ditanggung nafkahnya. Sebaliknya dalam aqiqah, yang jadi objek hukum merupakan orang tua yang baru mempunyai anak, sehingga pahalanya diperuntukkan untuk orang tua tersebut jasa aqiqah .

Pemicu serta waktu penerapan keduanya berbeda syarat. Ibadah qurban diajarkan untuk mereka yang dianugrahi kelebihan harta, serta waktu penerapannya pada hari raya qurban. Berbeda dengan ibadah aqiqah, yang diajarkan untuk orang tua yang dikaruniai seseorang anak, waktunya seminggu sehabis kelahiran anak ataupun dapat pula pada hari keempat belas.

Dari kedua penjabaran di atas, ibadah qurban serta aqiqah tidak mempunyai keterkaitan satu sama lain. Maksudnya, tidak terdapat kausalitas keduanya sehingga bila salah satunya tidak diwujudkan hingga tidak hendak mempengaruhi kepada yang lain. Ini berbeda, misalnya, dengan permasalahan wudu serta salat, yang keduanya mempunyai kausalitas ataupun kedekatan satu sama lain. Sehingga bila wudunya tidak legal, hingga salatnya juga tidak legal.

Oleh sebab itu, perkara menimpa ibadah qurban yang kerap disangkutpautkan dengan ibadah aqiqah mestinya tidak terjalin. Walaupun memanglah antara keduanya mempunyai kesamaan banyak perihal, semacam tipe hewan serta kriterianya. Perihal ini sebagaimana kata Syekh Wahbah Zuhaili di dalam kitabnya, Al- Fiqh Al- Islami Wa Adillatuhu.

Bila terdapat yang mau melakukan ibadah qurban, sebaliknya ia dahulu kala kecil belum diaqiqahi oleh orang tuanya, hingga boleh saja melaksanakan ibadah tersebut. Ibadah qurbannya senantiasa legal asal ketentuan serta rukunnya terpenuhi. Begitu pula kebalikannya, bila ia dikaruniai seseorang anak, tetapi belum mengerjakan ibadah qurban, hingga diperbolehkan melakukan aqiqah buat anaknya.

Serta pada permasalahan awal, sebagian ulama semacam Al- Khallal dengan melansir riwayat Imam Ahmad:

Baca Juga : Peranan Indonesia Dalam Perserikatan Bangsa- Bangsa( PBB)

ذَكَرَأَبُوْعَبْدِاللهِأَنَّبَعْضَهُمْقَالَ:فَإِنْضَحَّىأَجْزَأَعَنِالْعَقِيْقَةِ

Maksudnya:“ Imam Ahmad mengatakan kalau sebagian ulama berkata: Bila terdapat orang berqurban hingga telah dapat mewakili aqiqah.”

Jadi, dengan melakukan qurban, sebaliknya belum diaqiqahi dahulu kala masih balita, hingga perihal tersebut telah dapat ditutupi dengan ibadah qurban yang dikerjakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *